Npm : 11212109
Kelas : 3EA22
Tugas : Bahasa Indonesia II (Sofskill)
BERFIKIR
DEDUKTIF
Pengertian deduktif
Deduksi
berasal dari bahasa Inggris deduction yang berarti penarikan kesimpulan
dari keadaan-keadaan yang umum, menemukan yang khusus dari yang umum. Deduksi
adalah cara berpikir yang di tangkap atau di ambil dari pernyataan yang
bersifat umum lalu ditarik kesimpulan yang bersifat khusus. Penarikan
kesimpulan secara deduktif biasanya mempergunakan pola berpikir yang dinamakan
silogismus. Silogismus disusun dari dua buah pernyataan dan sebuah kesimpulan.
Metode
berpikir deduktif adalah metode berpikir yang menerapkan hal-hal yang umum
terlebih dahulu untuk seterusnya dihubungkan dalam bagian-bagiannya yang
khusus.
Contoh:
Semua
makhluk hidup perlu makan untuk mempertahankan hidup (Premis mayor)
Susi
adalah seorang makhluk hidup (Premis minor)
Jadi,
Susi perlu makan untuk mempertahankan hidupnya. (kesimpulan)
Proses
penalaran itu berlangsung dalam tiga tahap. Pertama, generalisasi sebagai
pangkal tolak. Kedua, penerapan atau perincian generalisasi melalui kasus
tertentu. Ketiga, kesimpulan deduktif yang berlaku bagi kasus khusus itu.
Silogisme
Dalam pengertian umum,
silogisme adalah suatu argument deduktif yang terdiri dari dua premis dan satu
kesimpulan. Silogisme adalah setiap penyimpulan tidak langsung, yang dari dua
proposisi (premis-premis) disimpulkan suatu proposisi baru (kesimpulan). Premis
yang pertama disebut premis umum (premis mayor) dan premis yang kedua disebut
premis khusus (premis minor). Kesimpulan itu berhubungan erat sekali dengan
premis-premis yang ada. Jika premis-premisnya benar maka kesimpulannya juga
benar.
Jenis-jenis
Silogisme
Silogisme
dibagi menjadi 5 jenis, sebagai berikut:
a. Silogisme
Kategorial
Silogisme
kategorial adalah silogisme yang semua proposisinya merupakan kategorial.
Proposisi yang mendukung silogisme disebut dengan premis yang kemudian dapat
dibedakan menjadi premis mayor (premis yang termnya menjadi predikat), dan
premis minor ( premis yang termnya menjadi subjek). Yang menghubungkan di
antara kedua premis tersebut adalah term penengah (middle term).
Contoh:
·
Semua tumbuhan membutuhkan air. (Premis
Mayor/ Premis Umum)
·
Akasia adalah tumbuhan (Premis Minor /
Premis Khusus).
·
Akasia membutuhkan air (Konklusi /
Kesimpulan
Hukum-hukum
Silogisme Katagorik.
1. Apabila
salah satu premis bersifat partikular, maka kesimpulan harus partikular juga.
2. Apabila
salah satu premis bersifat negatif, maka kesimpulannya harus negatif juga.
3. Apabila
kedua premis bersifat partikular, maka tidak sah diambil kesimpulan.
4. Apabila
kedua premis bersifat negatif, maka tidak akan sah diambil kesimpulan. Hal ini
dikarenakan tidak ada mata rantai yang menhhubungkan kedua proposisi premisnya.
Kesimpulan dapat diambil jika salah satu premisnya positif.
5. Apabila
term penengah dari suatu premis tidak tentu, maka tidak akan sah diambil
kesimpulan. Term-predikat dalam kesimpulan harus konsisten dengan term redikat
yang ada pada premisnya. Apabila tidak konsisten, maka kesimpulannya akan
salah.
6. Term
penengah harus bermakna sama, baik dalam premis mayor maupun premis minor. Bila
term penengah bermakna ganda kesimpulan menjadi lain.
7. Silogisme
harus terdiri tiga term, yaitu term subjek, predikat, dan term, tidak bisa
diturunkan konklsinya.
b. Silogisme
Hipotetik
Silogisme
hipotetik adalah argumen yang premis mayornya berupa proposisi hipotetik,
sedangkan premis minornya adalah proposisi katagorik. Ada 4 (empat) macam tipe
silogisme hipotetik:
1. Silogisme
hipotetik yang premis minornya mengakui bagian antecedent.
Contoh:
·
Jika hujan saya naik mobil.(mayor)
·
Sekarang hujan.(minor)
·
Saya naik mobil (konklusi).
2. Silogisme
hipotetik yang premis minornya mengakui bagian konsekuennya.
Contoh:
·
Sekarang bumi telah basah (minor).
·
Hujan telah turun (konklusi)
3. Silogisme
hipotetik yang premis minornya mengingkari antecedent.
Contoh:
·
Jika politik pemerintah dilaksanakan
dengan paksa, maka kegelisahan akan timbul.
·
Politik pemerintahan tidak dilaksanakan
dengan paksa.
·
Kegelisahan tidak akan timbul.
4. Silogisme
hipotetik yang premis minornya mengingkari bagian konsekuennya.
Contoh:
·
Bila mahasiswa turun ke jalanan, pihak
penguasa akan gelisah.
·
Pihak penguasa tidak gelisah.
·
Mahasiswa tidak turun ke jalanan.
c. Silogisme
Alternatif
Silogisme
alternatif adalah silogisme yang terdiri atas premis mayor berupa proposisi
alternatif. Proposisi alternatif yaitu bila premis minornya membenarkan salah
satu alternatifnya. Kesimpulannya akan menolak alternatif yang lain.
Contoh:
·
Kyuhyun berada di Korea atau Jepang.
·
Nenek Sumi berada di Jepang .
·
Jadi, Nenek Sumi tidak berada di Korea.
d. Silogisme
Disjungtif
Silogisme
disjungtif adalah silogisme yang premis mayornya merupakan keputusan disyungtif
sedangkan premis minornya bersifat kategorik yang mengakui atau mengingkari
salah satu alternatif yang disebut oleh premis mayor. Seperti pada silogisme
hipotetik istilah premis mayor dan premis minor adalah secara analog bukan yang
semestinya. Silogisme ini ada dua macam yaitu:
a) Silogisme
disyungtif dalam arti sempit
Silogisme
disjungtif dalam arti sempit berarti mayornya mempunyai alternatif
kontradiktif.
Contoh:
·
Dia pintar atau bodoh.(premis1)
·
Ternyata dia pintar.(premis2)
·
Ia tidak bodoh (konklusi).
b) Silogisme
disjungtif dalam arti luas
Silogisme
disyungtif dalam arti luas berarti premis mayornya mempunyai alternatif bukan
kontradiktif.
Contoh:
·
Santi di rumah atau di
sekolah.(premis1)
·
Ternyata tidak di rumah.(premis2)
·
Santi di sekolah (konklusi).
e. Entimen
Silogisme
ini jarang ditemukan dalam kehidupan sehari-hari, baik dalam tulisan maupun lisan.
Yang dikemukakan hanya premis minor dan kesimpulan.
Contoh
entimen:
·
Dia menerima hadiah pertama karena dia
telah menang dalam sayembara itu.
·
Anda telah memenangkan sayembara ini,
karena itu Anda berhak menerima hadiahnya.